Logo PNRI
KONSORSIUM PELESTARIAN NASKAH MOW BABAD DIPONEGORO 2019
Ditulis Oleh: Aris Riyadi, Kameraman:Niko, Video Editing:Ceppy, Subtitle:Susan, Redaktur : Faiz

Salemba Raya – Bidang pelestarian saat ini sedang mengalami perkembangan yang sangat pesat dengan adanya kemajuan teknologi informasi dan penelitian bidang eksakta yang dapat diterapkan pada berbagai disiplin ilmu. Hal ini disampaikan oleh Eliza Jacobi pada kegiatan Konsorsium Naskah Babad Diponegoro selama 7 hari (19 – 26 Agustus 2019) yang melibatkan beberapa ahli konservator dari Indonesia, Jerman dan Belanda. Ia menunjukkan sebuah metode yang tepat dan terbarukan tentang cara konservasi fisik yang saat ini menjadi tren dunia berupa perlakukan irongall ink. Memperbaiki koleksi yang merupakan warisan budaya adalah hal yang besar dimana dampaknya harus diperhitungkan dengan baik untuk kelangsungan pada masa yang akan datang. Metode tersebut harus melihat apa yang menjadi penyakit pada koleksi dan bagaimana mengobatinya secara kompatibel.

 

Metode perlakukan irongall ink pertama kali diciptakan oleh beberapa peneliti yang mengeluti bidang konservasi dan kimia di Eropa dikarenakan kepedulian para kurator dan konservator benda seni bersejarah tinggi yang semakin lama semakin memprihatinkan kerusakannya. Di Staatbibliothek zu Berlin kami selalu menggunakan metode ini karena sebagian besar kerusakan terjadi pada koleksi kertas dengan tinta irongall yang pada abad ke-12 selalu digunakan oleh para administrator, seniman music dan lukis dalam menciptakan karyanya. Hal ini disampaikan oleh Katherina Wewerke pada kegiatan konsorsium ini. Ia juga menunjukkan tentang tahapan dan beberapa formulasi yang biasa dengan pengalamannya selama 25 tahun sebagai konservator kertas.

 

Konsorsium naskah antar tiga negara ini sudah direncanakan dengan matang sebelumnya dan diterapkan pada tahun 2019 dengan tujuan memperbaiki dan melakukan digitalisasi naskah Babad Diponegoro yang merupakan salah satu koleksi Ingatan Dunia ditetapkan pada tahun 2012 oleh UNESCO. Kondisi fisiknya saat ini mengalami berbagai korosi tinta dan kerapuhan kertas pada berbagai tingkatan disetiap jumlah halamannya. Ketika naskah tersebut menjadi Ingatan Dunia maka Perpustakaan Nasional RI sebagai lembaga yang menyimpan koleksinya memperkuat program dengan melakukan pelestarian secara fisik dimana koleksi sudah berhenti dari proses degradasi kerusakan dan secara informasi dimana pemustaka dapat menikmati koleksi tersebut melalui format digitalnya dan tidak lagi secara langsung memegang koleksinya.

 

Metode yang digunakan merupakan metode yang baru diterapkan di Perpustakaan Nasional RI terutama Pusat Preservasi Bahan Pustaka yaitu dengan penghentian kerusakan lebih lanjut berupa korosi tinta menggunakan larutan Phytate dan diperkuat oleh proses lining menggunakan tisu Jepang. Sebelum menuju proses lining koleksi di foto untuk diproses kedalam bentuk digitalnya tanpa perlakuan editing melainkan secara real memperlihatkan kondisinya. Prosedur yang dilakukan pada kegiatan ini merupakan alur yang berseri terhadap koleksi bernilai tinggi. Kegiatan ini sendiri selain merupakan wadah berbagi pengetahuan juga dipraktekkan langsung pada koleksi sebagai program tepat sasaran. Rangkaian tahapan diterapkan untuk memperkuat kompetensi pustakawan konservasi dalam menangani benda warisan budaya nusantara.

Reportase: Aris Riyadi

Cameraman : Niko

Subtitle : Susan

Editing Video : Ceppy Darmawan

Redaktur : Faiz