Logo PNRI
DIGITALISASI KOLEKSI NASKAH LONTAR MUSEUM BALI TAHUN 2020
Ditulis Oleh: PRESERVASI

Bali yang sering disebut dengan Pulau Dewata merupakan salah satu destinasi wisata yang begitu terkenal di mata dunia, selain dari budayanya yang begitu beragam dan sangat menarik keindahan alamnya ada pula bagian dari Bali yang merupakan cerminan karya intelektual dari masyarakat Bali sejak zaman dahulu yaitu naskah kuno Lontar.
Lontar sendiri bagi masyarakat Bali merupakan cerminan dari karakteristik cara berpikir, cara perilaku dan citra diri kebudayaan setempat. Lontar di Bali diyakini sebagai “Pustaka Suci”, disebut pula “Candi Pustaka” sebagai stana Sang Hyang Aji Saraswati, manifestasi Sang Hyang Widhi/Tuhan sebagai pencipta dan penguasa ilmu pengetahuan.
Museum Bali adalah museum negara yang berada di Kota Denpasar, Bali. Museum bali menjadi museum penyimpanan peninggalan masa lampau manusia dan etnografi. Koleksi museum terdiri dari benda-benda etnografi antara lain peralatan dan perlengkapan hidup, kesenian, keagamaan, bahasa tulisan, dan lainnya yang mencerminkan kehidupan dan perkembangan kebudayaan Bali di masa lampau.Gagasan mendirikan museum Bali dicetuskan pertama kali oleh arsitek W.F.J. Kroon (1909-1913) yang sekaligus Asisten Residen Bali Selatan di Denpasar. Gagasannya terwujud dengan berdirinya sebuah geung yang disebut Gedung Arca pada tahun 1910. Para arsiteknya adalah I Gusti gede Ketut Kandel dari banjar
Abasan dan I Gusti Ketut Rai dari banjar Belong bersama seorang arsitek jerman yaitu Curt
Grundler. Sokongan dana dan material berasal dari raja-raja yaitu Buleleng, Tabanan, Badung dan Karangasem.
Gagasan W.F. Sttuterhim, Kepala dinas purbakala, melanjutkan usaha-usaha melengkapi museum dengan peninggalan etnografi pada tahun 1930. Untuk memperlancar pengelolaan museum, dibentuklah sebuah yayasan yang diketuai oleh H.R. Ha'ak, penulis G.J Grader, bendahara G.M. Hendrikss, dengan para anggota antara lain; R. Goris, I Gusti Ngurah Alit (raja Badung), I Gusti Bagus Negara, dan W.Spies. Personalia yayasan disahkan pada tanggal 8 Desember 1932 dan sekaligus Museum Bali dibuka untuk umum. Gedung Tabanan, Gedung Karangasem dan Gedung Buleleng dibuka untuk pameran tetap dengan koleksi dari benda-benda prasejarah, sejarah, etnografi termasuk seni rupa.

Berdasarkan Penjelasan diatas maka Perpustakaan Nasional melalui pusat preservasi mengirimkan tim pelestarian. Tim tersebut berisikan Pengalihmedia, Konservator dan Pustakawan. dengan target 308 judul yang akan dilakukan digitalisasi yang kemudian dikemas dan diberikan kepada pihak museum serta dilayankan oleh pemustaka di Perpustakaan Nasional.



Galeri

SERAH_TERIMA_COPY_HASIL_DIGITALISASI_NASKAH_LONTAR_BALI

SERAH_TERIMA_COPY_HASIL_DIGITALISASI_NASKAH_LONTAR_BALI

TIM.2_JUGA_SEDANG_DIGITALISASI_NASKAH_LONTAR_BALI

TIM.2_JUGA_SEDANG_DIGITALISASI_NASKAH_LONTAR_BALI

TIM.DIGITALISASI_NASKAH_LONTAR_BALI

TIM.DIGITALISASI_NASKAH_LONTAR_BALI

TIM.JUGA_SEDANG_DIGITALISASI_NASKAH_LONTAR_BALI

TIM.JUGA_SEDANG_DIGITALISASI_NASKAH_LONTAR_BALI

TIM_SEDANG_DIGITALISASI_NASKAH_LONTAR_BALI

TIM_SEDANG_DIGITALISASI_NASKAH_LONTAR_BALI