http://diklat.poltekpelsulut.ac.id/-/s777/ https://tppkk.bengkaliskab.go.id/cgi-bin/s777/ https://tracerstudy.disdik.kalteng.go.id/demo/ https://bpprd.musirawaskab.go.id/demo/ http://bappedalitbang.balikpapan.go.id/assetsadmin/dana/index.html bokep gacor https://mesin.untag-sby.ac.id/mesin/XD/ https://wisuda.unkris.ac.id/pages/sdemo/ https://simdatin.bangda.kemendagri.go.id/uploads/-/ https://jdih-dprd.ponorogo.go.id/assets/Mvp/demo/ https://agroindustri.untag-sby.ac.id/backend/assets/ https://jdih.sorongkota.go.id/demo/ https://sierpekade.tangerangselatankota.go.id/demo/

https://dispora.lomboktimurkab.go.id/sgacor/ https://dispora.lomboktimurkab.go.id/sdemo/ http://bappedalitbang.balikpapan.go.id/assetsadmin/slotpulsa/index.html https://pmb.stiatabalong.ac.id/assets/thai/ https://pmb.ubd.ac.id/demo/ https://agroindustri.untag-sby.ac.id/demo/ https://hey.fkm.unair.ac.id/assets/front/ https://wisuda.unkris.ac.id/web/sthai/ https://wisuda.unkris.ac.id/pages/demo-slot/

Pusat Preservasi Perpustakaan Nasional RI
Logo PNRI
PELESTARIAN KOLEKSI LANGKA dengan METODE DIGITALISASI
Ditulis Oleh: Abdul Wakhid

Kamis, 24 Nopember 2022  

 

PELESTARIAN KOLEKSI LANGKA 

dengan METODE DIGITALISASI 

Abdul Wakhid Pustakawan Ahli Madya Perpusnas RI

 Abstrak

Digitalisasi koleksi merupakan suatu proses perubahan format penyajian informasi dari bentuk cetak ke bentuk digital. Perpusnas RI saat ini berusaha memberikan pelayanan yang maksimal tanpa harus ada batasan ruang dan waktu yang menghambat pemustaka dalam mencari informasi yang dibutuhkan. Selain memberikan pelayanan yang maksimal, digitalisasi koleksi juga bertujuan untuk melestarikan bahan perpustakaan supaya tidak mudah hilang ataupun rusak. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses digitalisasi koleksi langka yang dilakukan oleh Perpusnas RI; sejauh mana pemanfaatannya; bagaimana proses terjadinya perubahan bentuk koleksi cetak menjadi koleksi digital, dan hambatan yang dihadapi dalam proses digitalisasi. Metode yang digunakan dalam kajian ini dengan kualitatif dan jenis pengumpulan data menggunakan teknik observasi dan dokumentasi. Hasil kajian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) digitalisasi koleksi langka dapat memberikan kemudahan bagi pemustaka dalam menemukan informasi yang dibutuhkan dengan cepat, (2) hambatan dalam digitalisasi koleksi langka antara lain masih terbatasnya jumlah SDM yang dimiliki untuk melakukan digitalisasi koleksi, (3) sering terjadi error pada server dikarenakan pangkalan data server masih bernaung pada unit PUSDATIN.

Pendahuluan

Digitalisasi Koleksi Langka “Buku Langka” merupakan satu cara supaya koleksi buku langka tetap dapat dimanfaatkan oleh pemustaka yaitu dengan melestarikan koleksi tersebut. Permasalahan yang dialami dalam hal pemanfaatan koleksi adalah rusaknya koleksi tercetak yang berbahan kertas. Usia koleksi cetak yang semakin tua membuat kualitas koleksi yang berbahan kertas rentan akan kerusakan sehingga mengharuskan dilakukan tindakan pelestarian. Koleksi langka merupakan koleksi penting sehingga perlu dilestarikan. Pelestarian koleksi dilakukan untuk menyelamatkan isi kandungan informasi supaya koleksi tetap dapat dimanfaatkan oleh pemustaka, disamping fisik koleksi aslinya tetap terjaga. Beberapa cara dalam melestarikan koleksi langka adalah dengan cara digitalisasi, restorasi dan fumigasi. Digitalisasi merupakan proses untuk mengalihmediakan dari bentuk cetak ke bentuk digital atau elektronik. Tujuan digitalisasi koleksi langka yaitu supaya koleksi buku langka tetap lestari sehingga dapat dimanfaatkan oleh pemustaka. Digitalisasi koleksi langka dilakukan dengan cara mengalihmediakan isi kandungan koleksi ke media lain, yaitu penyimpanan melalui perangkat komputer. Digitalisasi koleksi dilakukan oleh orang yang memiliki keahlian dibidangnya, sehingga digitalisasi dapat dilakukan dengan baik, produktif dan dapat mewujudkan tujuan digitalisasi koleksi. Restorasi merupakan kegiatan memperbaiki koleksi langka yang sudah rusak supaya dapat dimanfaatkan lagi oleh pemustaka. Sedangkan fumigasi merupakan usaha pencegahan supaya koleksi langka tidak rusak. Fumigasi dilakukan dengan cara pengasapan dengan menggunakan bahan kimia sehingga hewan atau serangga yang dapat menyebabkan kerusakan pada buku langka dapat dimusnahkan. Dengan demikian koleksi langka akan tetap terjaga kelestariannya.

Koleksi langka adalah buku yang sudah sangat sulit didapatkan di pasaran, walau buku tersebut dicetak masih baru, karena terbatasnya eksemplar (http://digilib.pnri.go.id). Menurut Susanto Zuhdi koleksi langka adalah koleksi yang sudah tidak terbit lagi, sekalipun usianya belum begitu lama. (http://www.perpusnas.go.id). Jadi koleksi langka adalah suatu jenis koleksi yang memiliki ciri-ciri yang tidak diterbitkan lagi, sudah tidak beredar di pasaran, susah untuk mendapat­kannya, mempunyai kandungan informasi yang tetap, memiliki informasi kesejarahan. Koleksi buku yang masih baru dapat dikatakan koleksi langka karena jumlah eksemplar yang terbatas.

Koleksi buku langka memiliki nilai sejarah dan informasi yang terkandung di dalamnya cukup penting sehingga koleksi langka harus dilestarikan. Pelestarian koleksi langka perlu dilakukan karena koleksi buku langka merupakan koleksi buku yang sulit didapatkan di pasaran. Hal ini dikarenakan koleksi langka sudah tidak diterbitkan lagi. Koleksi langka perpustakaan umumnya terbuat dari bahan kertas. Selama berada di ruang perpustakaan tentu saja akan mengalami perubahan kualitas dari kertas tersebut hingga mengalami kerusakan. Banyak faktor penyebab kerusakan koleksi langka yang mengakibatkan informasi dalam koleksi tersebut tidak dapat dimanfaatkan secara optimal. Faktor-faktor itu antara lain kualitas dari bahan dasar kertas, faktor lingkungan, faktor lain seperti manusia, serangan hewan, serangga yang mengakibatkan kerusakan koleksi. Selain itu kerusakan dapat terjadi karena bencana alam seperti banjir, kebakaran, gempa bumi dan sebagainya (Martoatmodjo dkk., 1999). Salah satu usaha yang dilakukan untuk menyelamatkan koleksi perpustakaan dari kerusakan dengan tindakan pelestarian koleksi, karena dengan pelestarian koleksi dapat menjamin akses informasi berkelanjutan.

Menurut Undang-undang No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, dijelaskan bahwa perpustakaan merupakan wahana pelestarian kekayaan budaya bangsa yang kegiatannya mengelola karya-karya tulis, karya cetak, dan atau karya rekam secara profesional dengan sistem tertentu guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi dan rekreasi para pemustaka. Pasal 1 ayat (5) dinyatakan bahwa perpustaakaan adalah lembaga pemerintah non-departemen (LPND) yang melaksanakan tugas pemerintah dalam bidang perpustakaan yang berfungsi sebagai perpustakaan pembina, perpustakaan rujukan, perpustakaan deposit, perpustakaan kajian, perpustakaan pelestarian, dan pusat jaringan perpustakaan. Pasal 7 ayat (1) butir d, bahwa pemerintah berkewajiban menjamin ketersediaan keragaman koleksi perpustakaan melalui terjemanan (translasi), alih aksara (transliterasi), alih suara ketulisan (transkripsi), dan alih media (transmedia). Maksud kata alih media dalam pasal tersebut tentunya berkaitan dengan perubahan bentuk media dari cetak kedalam bentuk media digital atau file. Pasal 21 ayat (3) dinyatakan bahwa perpustakaan bertangggungjawab: a. Mengembangkan koleksi yang memfasilitasi terwujudnya masyarakat pembelajar sepanjang hayat; b. Mengembangkan koleksi untuk melestarikan hasil budaya bangsa.

Digitalisasi termasuk dalam kegiatan preservasi dan konservasi. Preservasi digital (digital preservation) merupakan kegiatan yang terencana dan terkelola untuk memastikan supaya bahan digital dapat terus dipakai selama mungkin. Pada dasarnya, preservasi digital adalah upaya memastikan supaya materi digital tidak tergantung pada kerusakan atau perubahan teknologi. Secara umum preservasi digital mencakup berbagai bentuk kegiatan, mulai dari kegiatan sederhana menciptakan tiruan (replika atau copy) dari sebuah materi digital untuk disimpan, sampai kegiatan transformasi digital yang cenderung rumit. Sedangkan istilah konservasi (conservation), di kalangan perpustakaan erat hubungannya dengan kegiatan perawatan benda pustaka seperti penjilidan (binding), perawatan fisik, pengelolaan rak buku, dan penyiangan (weeding). Pada tahun 1960-an konservasi adalah isu dan praktik di perpustakaan, sementara institusi informasi lainya kurang terlibat, yang ditonjolkan kepada fungsi menjaga kondisi benda atau bahan perpustakaan yang ada di dalam koleksi supaya dapat dimanfaatkan selama mungkin (Pendit dkk, 2008). Kegiatan digitalisasi di Perpusnas RI bertujuan untuk menjaga kelangsungan dari warisan budaya tersebut. Kegiatan ini dilakukan dengan cara merubah bentuk penyajian dari koleksi cetak/fisik menjadi bentuk file.

Jenis Koleksi Langka

Koleksi langka diantaranya adalah sebagai berikut: (1) Kumpulan buku dari berbagai disiplin ilmu, terbitan mulai abad 16; (2) Kumpulan foto Jakarta Tempo Dulu; (3) Kumpulan ilustrasi tentang Indonesia: kesenian, kebudayaan, kegiatan ekonomi, tempat bersejarah dan pemandangan alam; (4) Koleksi buku STER, disebut Ster karena mempunyai keunikan (spesifikasi) tertentu, misalnya dari ukuran buku yang besar dan mempunyai ilustrasi yang menarik. Koleksi STER jumlahnya sekitar 1200 judul dengan tahun terbit mulai dari abad 17; (5) Koleksi Varia; terdiri dari beberapa jenis, seperti naskah, litografi, poster, lukisan, foto, sertifikat, leaflet, peta dan dokumen dengan jumlah koleksi sekitar 700 nomor/entri dan kira-kira sebanyak 40% memiliki ilustrasi/lukisan; (6) Kelompok Disertasi berbahasa Belanda, mulai dari tahun 1838-1940; (7) Buku-buku tentang Sukarno (Presiden RI yang pertama); (8) Buku-buku Terlarang berdasarkan TAP MPR No. XXV/MPRS/1966, berjumlah sekitar 500 judul. (http://digilib.pnri.go.id). Kriteria koleksi langka yaitu: (1) Buku baru, tapi dicetak dengan jumlah terbatas; (2) Buku terbitan lama yang sudah berumur puluhan bahkan ratusan tahun yang bernilai sejarah, terkait tokoh penting di zamannya, atau peristiwa penting masa lalu; (3) Buku yang menjadi favorit di masa penerbitannya dan sudah tidak diterbitkan lagi. (www.safakmuhammad.com)

Pelestarian Koleksi Langka

Pelestarian menurut IFLA (International Federation of Federation of Library) yaitu mencakup semua usaha melestarikan bahan pustaka, keuangan, ketenagaan, metode dan teknik penyimpanannya. (Sudarsono, 2006) pelestarian adalah kegiatan yang mencakup semua usaha melestarikan bahan pustaka dan arsip termasuk didalamnya kebijakan pengelolaan, keuangan, ketenagakerjaan metode dan pelestarian informasi koleksi langka melalui: Digitalisasi, Restorasi, Fumigasi. Sedangkan menurut Martoadmodjo, pelestarian adalah mengusahakan agar bahan yang dikerjakan tidak cepat mengalami kerusakan. Pelestarian koleksi buku langka dimaksudkan agar koleksi buku langka tersebut tidak mudah mengalami kerusakan, sehingga bisa dimanfaatkan oleh pemustaka.

Tujuan Pelestarian Koleksi Langka

Tujuan pelestarian secara umum adalah untuk melestarikan hasil budaya cipta manusia baik yang berupa informasi maupun fisik bahan pustaka tersebut. Sedangkan tujuan pelestarian menurut (Martoadmodjo, 1993) adalah: Menyelamatkan nilai informasi dokumen; Menyelamatkan fisik dokumen; Mengatasi kendala kekurangan ruang; Mempercepat temu kembali informasi (jika sudah dialih mediakan/digitalisasi)

Metode Kajian

Jenis kajian menggunakan kajian studi kasus (Digitalisasi Koleksi buku langka di Pusat Preservasi bahan Perpustakaan Perpusnas RI Jakarta). (Suryabrata dkk., 2013: 80), kajian studi kasus adalah kajian mendalam mengenai kasus tertentu dengan hasil berupa gambaran yang lengkap dan terorganisasi. Ruang lingkup kajian mencakup keseluruhan siklus atau hanya segmen-segmen tententu saja. Data dalam kajian ini berasal dari informan, pengamatan di tempat, dan pengalaman kerja dibidang tesebut selama 10 tahun.

Peneliti menggunakan jenis sumber data primer dan sekunder. Sumber data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dengan kajian melalui wawancara, pengamatan langsung dimana dalam kasus ini melibatkan pengkaji, petugas pengelola Koleksi dan petugas yang mealakukan Digitalisasi secara langsung. Dalam kajian ini pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling. Purposive Sampling adalah penentuan sampel berdasarkan dengan tujuan tertentu dengan syarat-syarat harus dipenuhi (Suharsimi, Arikunto: 2010) Sedangkan untuk Sumber data sekunder adalah data yang diperoleh dengan cara membaca, mempelajari, dan memahami melalui media lain yang bersumber dari literatur. Data sekunder dalam kajian ini berasal dari berbagai literatur yang berhubungan dengan digitalisasi koleksi langka.

Analisis data yang digunakan dalam kajian ini menurut (Miles dkk, 1984) bahwa kajian analisis data kualitatif terdiri reduksi data yang merujuk pada proses pemilihan, pemfokusan, penyederhanaan, abstraksi, dan pentransformasian data asli yang terjadi dalam catatan tertulis. Langkah kegiatan analisis data berikutnya adalah format data. “Format” sebagai kumpulan informasi yang tersusun yang membolehkan pendeskripsian sekumpulan dan pengambilan tindakan. Langkah analisis data berikutnya adalah penarikan dan verifikasi kesimpulan, yaitu dari permulaan pengumpulan data, mulai memutuskan dan pemaknaan data, mencatat keteraturan, pola-pola, penjelasan, konfigurasi, alur kausal, dan preposisi-preposisi.

Hasil dan Pembahasan

Menurut (Arif, 2013) ada beberapa pertimbangan perpustakaan dalam melakukan digitalisasi koleksi antara lain: (1) Kekuatan koleksi sebuah perpustakaan menjadi pertimbangan bagi perpustakaan untuk melakukan ekspansi ke dalam format digital; (2) Keunikan koleksi hanya memiliki satu salinan koleksi atau koleksi langka, tidak ditemukan di tempat lain maka perlu dipertimbangkan untuk melakukan digitalisasi koleksi tersebut; (3) Komunitas penggguna juga menjadi prioritas tersendiri bagi perpustakaan untuk melakukan digitasi koleksi. Sebagai contoh adanya kebutuhan kurikulum dari universitas yang mewajibkan adanya sumber-sumber informasi digital yang diakses oleh mahasiswa melalui Perpustakaan; (4) Kemampuan staf perpustakaan juga harus dipertimbangkan bagaimana kemampuan staf dalam melakukan manajemen koleksi digital, mulai dari penguasaan terhadap teknologi informasi, bagaimana teknis dan prosedur digitalisasi, hingga bagaimana melakukan pengelolaan dan perawatan koleksi digital hasil digitasi. Hal ini perlu sebagai jaminan kesinambungan pengelolaan dan peran­cangan koleksi digital di perpustakaan.

Kendala Digitalisasi Koleksi Langka

Beberapa kendala yang dialami perpustakaan dalam kegiatan digitalisasi koleksi langka, antara lain: (1) Butuh anggaran besar menjadi salah satu kendala kegiatan digitalisasi; (2) Pimpinan membutuhkan pertimbangan yang matang untuk Pelestarian Informasi Koleksi Langka: Digitalisasi, Restorasi, Fumigasi; (3) Sumber daya manusia (SDM) yang masih terbatas jumlahnya dalam melaksanakan digitalisasi; (4) Kondisi fisik koleksi langka memiliki tingkat kerusakan yang tidak sama, sehingga memerlukan penanganan yang berbeda. Koleksi dengan kondisi fisik yang sudah rapuh akan semakin rusak apabila petugas sembarangan dalam mengerjakan digitalisasi; (5) Peralatan untuk proses digital rentan mengalami kerusakan, juga sistem komputer yang dapat terserang virus komputer yang cepat berkembang, sehingga teknisi harus siap dan sering mengontrol semua peralatan yang digunakan dalam proses digitalisasi.

Tahapan persiapan yang dilakukan sebelum melakukan digitalisasi koleksi langka di Perpusnas RI antara lain adalah menjalin kerjasama dengan unit yang punya koleksi langka (LKU). Tahapan berikutnya pendataan dan pencatatan data bibliografisnya. Digitalisasi dilakukan untuk membuat arsip dokumen bentuk digital, untuk fungsi fotokopi, dan untuk membuat koleksi perpustakaan digital. Digitalisasi memerlukan peralatan seperti komputer, scanner, operator media sumber dan software pendukung (Sukmana, 2005). Sedangkan menurut Lasa Hs, Digitalisasi adalah proses pengelolaan dokumen tercetak/ printed document menjadi dokumen elektronik.

Setelah kedua tahapan tersebut terpenuhi, langkah selanjutnya yaitu mempersiapkan perlengkapan untuk proses digitalisasi. Perlengkapan tersebut yaitu hardware dan software. Hardware adalah Perangkat keras sebagai otomasi perpusatakaan merupakan sebuah mesin yang dapat menerima dan mengolah data menjadi informasi secara cepat dan tepat serta diperlukan program untuk menjalankannya. Fungsi perangkat keras untuk mengumpulkan data dan mengonversinya ke dalam satu bentuk yang dapat diproses oleh komputer (Supriyanto dan A Muhsin, 2008). Pemilihan hardware untuk melakukan proses digitalisasi dibutuhkan spesifikasi berupa processor minimal Intel pentium IV dengan monitor Super VGA. Hal tersebut bertujuan mempermudah dalam melakukan proses digitalisasi koleksi supaya tidak terjadi kendala dalam proses editing dan upload. Selanjutnya pemilihan scanner, menggunakan dua scanner yang berbeda dengan pembagian scanner pertama digunakan untuk menscan bagian dalam buku atau isi dari buku itu sendiri. Scanner ini kelebihannya adalah memiliki kecepatan proses scan yang lebih cepat. Scanner kedua digunakan untuk menscan cover bukunya.

Software adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan instruksi-instruksi yang memberitahukan perangkat keras untuk melakukan tugas sesuai dengan perintah. Tanpa perangkat lunak perangkat keras tidak akan ada gunannya (Suprianto dan A Muhsin, 2008). Pemilihan software yang digunakan dalam proses digitalisasi koleksi di Perpusnas RI adalah aplikasi Adobe Photoshop dan Adobe Acrobat. Aplikasi tersebut berfungsi untuk kegiatan editing dari hasil scan koleksi dan menjadi pdf. Aplikasi ketiga yang digunakan yaitu flipping book. flipping book adalah salah satu software untuk membuat tampilan animasi 3D untuk objek buku yang sudah di digitalisasikan. Cara kerja aplikasi tersebut file hasil scan nantinya akan di import ke software Flipping Book. Hasil dari aplikasi ini berupa koleksi buku digital dengan tampilan animasi buku 3D. Aplikasi keempat yang digunakan yaitu AutoPlay. Aplikasi kasi ini untuk membuat ebook lebih interaktif karena tersedia fitur tambahan.

Untuk memberikan gambaran riil tentang upaya digitalisasi koleksi langka yang dilakukan di Perpusnas RI. Pengkaji memberikan penjelasan alur digitalisasi koleksi sebagai berikut unit Pusat Preservasi menjalin kerjasama dengan unit Pujasintara. Kerjasama disini supaya pihak Pujasintara menyerahkan koleksi buku langka beserta data bibliografisnya yang akan digitalisasi. Selanjutnya pihak Pusat Presrvasi meenrima koleksi lalu memverifikasi koleksi. Setelah data terverifikasi Koleksi di scanning dan diubah formatnya menjadi bentuk pdf/file. Setelah proses scanning selesai lanjut ketahapan selanjutnya yaitu editing seperti pemberian Bookmark (caption halaman buku), recognize text (identifikasi teks), cropping (pemotongan), pemberian sampul buku/cover halaman depan. Setelah selesai dilakukan proses editing dokumen berlanjut pada proses uploading dimana dokumen tersebut akan di import dari komputer proses ke server supaya bisa diakses secara online melalui media komputer.

Proses digitalisasi meliputi tahapan scanner dokumen, editing, flipping book, dan upload. Scanner merupakan suatu alat yang berfungsi seperti mesin fotokopi, yaitu dengan cara memasukkan data melalui pencahayaan dan selanjutnya diterjemahkan dalam bentuk digital. Sensitive kepada cahaya dan dapat menerjemahkan teks, barcode, gambar, dan sebagainya. Hasil scanner ditampilkan pada layar monitor komputer dahulu kemudian baru dapat diubah dan dimodifikasi sehingga tampilan dan hasilnya menjadi bagus yang kemudian dapat disimpan sebagai file, teks, dokumen dan gambar. Berikut ini adalah tahapan scanning dokumen koleksi langka yang dilakukan Pusat Preservasi Perpusnas RI dalam melakukan upaya digitalisasi koleksi langka. Scanner atau Kamera digital merupakan suatu alat yang berfungsi seperti mesin fotokopi, yaitu dengan cara memasukkan data melalui pencahayaan dan selanjutnya diterjemahkan dalam bentuk digital. Sensitive kepada cahaya dan dapat menerjemahkan teks, barcode, gambar, dan sebagainya. Hasil scanner ditampilkan pada layar monitor komputer dahulu kemudian baru dapat diubah dan dimodifikasi sehingga tampilan dan hasilnya menjadi bagus yang kemudian dapat disimpan sebagai file, teks, dokumen dan gambar.

Editing menurut Kamus Inggris-Indonesia adalah kajian, pemeriksaan dan penyuntingan (M. Purwati et al. 2007). Setelah file/gambar discan, selanjutnya file/gambar tersebut diedit sesuai dengan bentuk/format aslinya. Pengeditan file/gambar ini terutama dilakukan pada sumber informasi yang berasal dari buku-buku kuno yang warna dasar kertasnya sudah berubah dan sudah mengalami pelapukan sehingga proses editing gambar sangat diperlukan supaya kualitas gambar menjadi lebih baik, biasanya pengeditan yang dilakukan berupa pengaturan kontras, level, kecerahan gambar, dan lain-lain menggunakan program pengolah gambar seperti Adobe Photosop.

Setelah langkah scanner dokumen dilakukan langkah selanjutnya pemberian Bookmark (penunjuk halaman buku). Definisi lain dari Bookmark (penunjuk halaman buku) adalah untuk menyimpan halaman (seperti favorit), seperti jika kita menempatkan penunjuk di halaman sebuah buku, untuk penunjuk halaman web cukup klik bookmark di bagian atas browser dan membuat satu halaman yang diinginkan. Setelah selesai melakukan Bookmark langkah selanjudnya Recognize text (identifikasi teks) berfungsi untuk mengidentifikasi pengetahuan tentang karakteristik dan penampilan. Jadi Recognize text (identifikasi teks) merupakan proses mengidentifikasi teks untuk mempermudah dalam pencariaan kata yang kita telusuri. Selain itu, tujuan dari Recognize text (identifikasi teks) adalah memperbaiki posisi kertas yang miring dan tidak rapi. Cropping (pemotongan) tujuannya dalah untuk memotong hasil scan supaya bagian yang tidak diperlukan tidak terbawa. Watermark tujuan untuk memberi tanda dokumen digital yang merupakan penanda keaslian dokumen. Resizing tujuannya meluruskan dokumen digital yang miring ketika di scan. Compiling tujuannya menyatukan file digital yang terpisah (jpeg) menjadi satu kesatuan dalam format PDF menjadi lebih rapi seperti teks aslinya (satu judul buku satu judul format PDF). Selanjudnya langkah terakhir ialah memberikan sampul pada buku dimana proses ini bertujuan untuk membuat cover sesuai dengan buku yang akan di digitalisasi (M. Purwati, et al, 2007). Sebelum masuk pada tahapan upload hasil dokumen/koleksi yang telah melewati tahapan editing tersebut nantinya akan di masukan ke aplikasi flipping book dimana aplikasi tersebut bertujuan untuk memberikan efek gerak dan tampilan 3D pada gambar tampilan koleksi digitalnya. Setelah pemberian efek gerak dari aplikasi flipping book selesai barulah file tersebut di upload ke database langka yang dimiliki oleh dan Koleksi Perpusnas RI. Setelah melalui beberapa proses tahapan digitalisasi maka buku/koleksi tersebut sudah dapat dimanfaatkan oleh masyarakat/pemustaka melalui media computer secara online dalam bentuk buku digital 3D.

Simpulan

Upaya Digitalisasi Koleksi Langka di Perpusnas RI adalah sebagai berikut; dalam melakukan proses digitalisasi koleksi langka melakukan beberapa persiapan dan tahapan mulai dari perlengkapan software dan hardware, kemudian persiapan pelaksanaan proses digitalisasi meliputi beberapa tahapan dari awal scanner dokumen, editing, flipping book, dan upload.

Daftar Pustaka

Pendit, L Putu. 2008. Perpustakaan Digital, Dari A Sampai Z. Jakarta. Cita Karyakarsa Mandiri.

Republik Indonesia. 2007, Undang-Undang No. 43 Tentang Perpustakaan. Jakarta: PerpusNas RI.

Suharsimi, Arikunto. 2010. Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta

Lasa Hs. 2005. Manajemen Perpustakaan. Yogyakarta: Gama Media

Lasa Hs. 2009. Kamus Kepustakawanan Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher

Martoadmodjo, Karmidi. 1993. Pelestarian Bahan Pustaka. Jakarta: Universitas Terbuka

Muhammadin, Razak. 1992. Pelestarian Bahan Pustaka dan Arsip. Jakarta: Yayasan Ford dan Program Pelestarian Bahan Pustaka

Rachman, Yeni Budi. Pengantar Pelestarian Koleksi: sebuah Catatan Ringkas

http://theyounglibrarian.wordpress.com/category/library-preservation pelestarian-. 

Sudarsono, Blasius. 2006. Anatologi Kepustakawanan Indonesia. Jakarta: Sagung Seto

Sukmana, Ena. Digitalisasi Pustaka www.researchgate.net/...DIGITALISASI.../

Sulistyo-Basuki. (1991). Pengantar ilmu perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Surachman, Arif [DOC] Membangun Koleksi Digital Dalam Web arifs. staff. ugm.ac.id/